Banten --- Dalam lawatannya ke Serang, Banten hari ini Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengunjungi lembaga pendidikan tinggi di Banten, yaitu Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Menteri Nuh menyerahkan beasiswa pendidikan bagi calon mahasiswa berprestasi dari keluarga miskin. Beasiswa ini bagian dari program Bidik Misi. Sebanyak 107 orang mahasiswa Untirta menjadi penerima beasiswa ini.
Mahasiswa penerima tersebar di enam fakultas yaitu Fakultas Teknik (FT), Fakultas Hukum (FH), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Pertanian (FP), Fakultas Ekonomi (FE), dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Para penerima berasal dari Serang, Sukabumi, Bogor, Tasik, dan Banyumas.
Mereka berhasil lolos seleksi dari total 290 orang pendaftar. Seleksi dilakukan tim penyeleksi dari SMA asal. Selain pertimbangan kondisi ekonomi, mereka juga dilihat prestasi akademiknya selama tiga tahun bersekolah di SMA tersebut. Kemudian SMA asal mereka pun memberikan rekomendasi ke Untirta.
Ketika menyerahkan secara simbolis, Menteri Nuh mengatakan, ada tiga modal utama pembangunan nasional, yaitu kekayaan sumber daya alam, pengalaman, dan sumber daya manusia. Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pendidikan menjadi kuncinya. Karena itu, tidak boleh ada anak Indonesia yang tidak bisa bersekolah atau kuliah karena masalah ekonomi. "Perguruan tinggi negeri paling tidak harus menerima 20 persen mahasiswa yang berasal dari keluarga tidak mampu," ucapnya.
Mahasiswa penerima beasiswa dibebaskan dari biaya pendidikan selama empat tahun kuliah. Mereka juga mendapat uang saku tiap bulan. "Gratis. Tahun 2010, diberikan 500-ribu tiap anak. Tahun 2011 ini naik menjadi 600-ribu. Insya Allah kalau dijaga dengan baik, cukup untuk biaya hidup," ujar Menteri Nuh.
Mendiknas juga menyempatkan diri untuk berdialog dengan mahasiswa. Seperti biasanya, ia bertanya mengenai cita-cita. Beberapa di antara mereka bercita-cita menjadi menteri. Ada yang ingin menjadi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Menteri Pemuda dan Olahraga, hingga Menteri Pendidikan Nasional. "Kenapa saya selalu bertanya tentang cita-cita? Orang yang punya cita-cita berarti punya optimisme dan kemampuan untuk menatap masa depan. Punya visi dan energi untuk mengubah keadaan sekarang menjadi lebih baik," katanya.
Menteri Nuh menambahkan, memiliki cita-cita saja belum cukup. Untuk mencapainya, harus memiliki ilmu. Karena itu, ia berharap tidak akan ada lagi anak Indonesia yang putus sekolah. Kemdiknas menyediakan beasiswa bagi mereka yang tidak mampu secara ekonomi, untuk bersekolah, dan melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi.





